Minggu, 17 November 2013
SEJARAH GENG MOTOR DI INDONESIA
1.Ada empat geng motor yang paling besar di Bandung yakni Moonraker ,
Grab on Road (GBR), Exalt to Coitus (XTC) dan Brigade Seven (Brigez).
Keempat geng itu sama- sama eksis dan memiliki anggota di atas 1000
orang. Kini mereka mulai menjalar ke daerah- daerah pinggiran Jawa
Barat, seperti Tasikmalaya, Garut, Sukabumi, Ciamis, Cirebon dan Subang.
Kita mulai saja dengan Moonraker. Inilah konon ruh dari semua geng
motor di Bandung. Moonraker lahir pada tahun 1978. Sel-sel komunitas
ini, dirajut oleh tujuh orang pemuda yang sama-sama hobi balap. Nama
“Moonraker” diambil dari salah satu judul film James Bond yang kondang
ketika itu. Awalnya mereka mengusung bendera berwarna putih-biru-merah
dengan gambar palu arit di tengahnya. Namun, karena pemerintah Indonesia
saat itu melarang ideologi tertentu yang identik komunisme (yang
bersimbolkan palu arit), mereka lalu mengganti bendera kebanggaannya
dengan warna merah-putih-biru, bergambar kelelawar. Gambar ini mereka
adopsi dari lambang “Hell Angel”, sebuah kelompok motor di Amerika
Serikat. Kelompok ini konsisten dengan sistem keorganisasiannya. Setiap
tahun ada penggantian kepengurusan dan membuat program-program kerja.
Struktur Organisasinya terdiri atas Divisi Balap, Panglima Perang
(Paper), dan Tim SWAT atau regu penyelamat. “Panglima Perang” mungkin
terdengar unik dalam sebuah organisasi pencinta motor. Istilah ini
biasanya digunakan oleh lembaga keamanan atau kelompok bersenjata. Di
Moonraker sendiri, Panglima Perang bertugas mengkoordinir anggota pada
saat terjadi tawuran, atau sebagai pembuat keputusan pada saat terjadi
bentrok dengan kelompok lain. Jika ada keputusan perang, informasi
menyebar ke seluruh anggota paling lama dalam waktu 24 jam. Bagi para
pembangkang yang melanggar tata tertib organisasi, sudah disiapkan
tempat yang mereka sebut dengan nama “Sel 13,” semacam mahkamah
pengadilan. Tempat ini paling dihindari oleh semua anggota. Jangan
mengharap sebuah proses hukum layaknya sebuah lembaga pengadilan. Di
sini para pembangkang itu akan mendapat penyiksaan dari
senior-seniornya. Kategori pelanggaran itu antara lain memakai dan
mengedarkan narkoba, bertindak melanggar hukum dan menjalin hubungan
kasih dengan sesama anggota Moonraker. Pengikut Moonraker semakin lama,
terus membengkak. Kini tercatat anggotanya mencapai 1.400 orang,
tersebar di berbagai wilayah. Menurut Dandy Alfandy, salah satu
pentolan Moonraker, sejak awal kelompok ini berorientasi pada balapan.
Konflik dengan geng XTC (musuh terbesar Moonraker) pertama kali dipicu
saat berlangsung kompetisi Road Race piala Djarum Super tahun 90-an.
Persoalannya sepele saja, hanya senggol-menyenggol di arena balapan,
entah siapa yang memulai. Puncaknya, terjadi tawuran besar-besaran
antara ke dua geng ini pada tahun 1999. Satu orang meninggal dunia pada
peristiwa itu. Hingga kini dendam sejarah itu masih mengendap dari
generasi ke generasi. XTC punya anggota lebih banyak dari Moonraker.
Siapa mereka? XTC atau Exalt To Coitus lahir pada tahun 1982 oleh 7
orang pemuda. Belakangan nama itu diganti menjadi Exalt To Creativity,
karena nama semula agak berbau porno. Mereka membawa bendera berwarna
paling atas putih-biru muda-biru Tua. Di tengahnya ada gambar lebah yang
melambangkan solidaritas antar anggota. Bila salah satu di antara
mereka ada yang diserang, maka yang lainnya akan membela. Mereka kini
mendirikan Sexy Road Indonesia, kumpulan gengster XTC se-Indonesia yang
berpusat di Bandung, untuk memfasilitasi anggotanya yang sudah melebihi
10.000 orang. Tak hanya Moonraker sebenarnya. Brigez dan GBR, juga
menyatakan permusuhannya terhadap XTC. Brigez yang paling antipati
terhadap geng yang satu ini. Asal muasal terjadinya permusuhan tidak
jelas sampai sekarang. Namun, baik XTC maupun Brigez menyatakan perang
satu sama lain hingga saat ini. “Setiap gengster ingin menjadi yang
nomor satu, kenyataannya kami memang yang paling banyak anggotanya,”
ujar Ari Rinaldi, salah satu anggota XTC mencoba menjawab alasan mengapa
XTC banyak dimusuhi oleh geng lain. Ari Rinaldi tercatat sebagai
mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Padjajaran Bandung. Pasukan ini
juga memiliki Koordinator Perang, untuk mempermudah koordinasi jika
terjadi tawuran atau pada saat akan melakukan perbutan wilayah.
Perebutan wilayah termasuk upaya dalam rangka memperluas daerah kekuasan
dan meningkatkan prestise dikalangan gengster. Menurut Felix,
penyerangan biasanya dilakukan diam-diam ke basis-basis lawan. Anggota
XTC, banyak anak-anak dari lingkungan TNI atau Polisi. Tak heran, jika
terjadi perang senjata api banyak beredar. Lalu, mengapa geng motor
identik dengan kekerasan?“Itu karena aparat yang menciptakan. Mereka
sering main gebuk sembarangan. Kami memang sering merampas motor milik
geng lain saat bentrok, istilahnya rampasan perang. Tapi motor itu
langsung kami bakar, tidak dijual atau dimiliki oleh salah satu dari
kami,” kata Iskandar. “Mungkin bagi polisi tindakan itu termasuk
kriminal, tapi menurut kami bukan,”tambahnya. Iskandar termasuk
pentolan XTC, ia juga ketua sebuah lembaga yang bergerak di bidang
penyediaan jasa pengamanan, Bodyguard Security Service (BOSS). Markas
BOSS dulu sering dijadikan tempat nongkrong anak-anak XTC. Dalam
pertemuan itu, ketua XTC Avi Vabio akrab dipanggil Pepi, juga ada.
Usianya jauh lebih muda. Ia ternyata salah satu karyawan bank berplat
merah di Jawa Barat. Dadan salah seorang anggota XTC mengatakan bahwa
telah terjadi selisih paham di antara anggota XTC sendiri. “Ada kelompok
yang berusaha memanfaatkan massa XTC untuk kepentingan politik. Padahal
harapan kami, ada ruang untuk berkreatifitas,” ujarnya. Malam itu Dadan
membawa anak laki-lakinya yang masih berusia sekitar 2 tahun. Pepi
mengaku sering diajak berunjukrasa dengan iming-iming uang. “Kami bahkan
pernah terlibat dalam tim sukses Aa Tarmana, kandidat Walikota Bandung,
tapi kalah,” kata Pepi. “Beberapa partai politik pernah meminta massa
dalam jumlah tertentu untuk kampanye. Pada pemilu 2004, partai Demokrat
juga meminta massa. Biasanya kami dibayar per kepala, ya lumayan
lah..”Beberapa hari lalu mereka juga mengirim 200 motor pada perayaan
ulang tahun Partai Demokrasi Pembaruan di Lapangan Gasibu Bandung.
Tidak menutup kemungkinan pada kampanye-kampanye atau unjukrasa itu
bertemu dengan geng motor lain. Tapi kalau dalam urusan ini, mereka
memilih damai. Pertengahan 2003, XTC melakukan penyerangan sensasional.
Mereka menyerang kantor kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes)
Bandung. Semua anggotanya tumpah ruah mengepung kantor Polwiltabes.
Mereka kecewa karena tidak diberi izin pada saat mau mengadakan bakti
sosial, akibat ada kesalahpahaman antara poilsi dengan panitia. Polisi
tak bisa berbuat banyak menghadapi ribuan massa yang memadati Jalan
Merdeka sepanjang kurang lebih 3 Kilo Meter. Beberapa orang yang dituduh
provokator ditahan di kantor Polwiltabes Bandung. “Kalau gak ada XTC
ya gak rame, gak akan terjadi perang,” Iskandar menambahkan. Tapi ia
menitip pesan untuk para aparat: “tolong rangkul kami, masa GAM dengan
RI saja bisa berdamai?” TAHUN 1980-an juga ditandai kelahiran Brigez
dan GBR. Brigez lahir di SMUN 7 Bandung, sesuai dengan namanya Brigade
Seven. Sejak masih embrio pada tahun 80-an geng ini merupakan rival
terberat XTC. Awal terbentuknya tak lebih dari hanya sekadar
kumpul-kumpul biasa. “Kami hanya ingin bebas menjalankan motor, tidak
pakai helm, tidak pakai lampu apalagi rambu-rambu,” kata Ilmanul, salah
satu pendiri Brigez. Dulu geng ini hanya beranggotakan tidak lebih dari
50 motor. Kini pengikutnya mencapai ribuan motor dan tersebar di
berbagai daerah di Jawa Barat. Sistem pengorganisasiannya tidak jelas.
Tidak ada pengurus, hanya ada ketua yang bertugas mengkoordinir saja.
Warna bendera negara Irak tanpa huruf Arab di tengahnya, menjadi lambang
identitas kelompok ini dengan kelelawar hitam sebagai simbolnya. Nama
Brigez acapkali diplesetkan menjadi Brigade setan atau Brigade Senja,
karena mereka sering nongkrong bersamaan dengan kepulangan sang surya.
Berbeda dengan XTC, Brigez identik dengan sikap anti birokrasi. Mereka
menolak bersimbiosis dengan lembaga plat merah atau ormas bentukan
kelompok politik tertentu. Menurut Ilmanul, lamaran dari Ormas Pemuda
Pancasila untuk bergabung, ditolaknya mentah-mentah. Kalau pun ada
anggotanya yang menjadi kader partai, itu lebih bersifat individu dan
tidak membawa bendera Brigez. Bersamaan dengan Brigez, muncul pula Grab
on Road (GBR). Yang berbeda, geng ini dilahirkan di lingkungan SMPN 2
Bandung. Mereka tak rikuh kebut-kebutan, sekalipun banyak yang belum
pegang surat ijin mengemudi. Kelompok ini mengidentifikasi diri dengan
segala sesuatu berbau Jerman, paling tidak warna benderanya
hitam-merah-kuning (urutan dari atas ke bawah). Meski lahir di SMPN 2
Bandung, anggota GBR beragam. Bukan hanya siswa atau alumni sekoah itu
saja, tapi kalangan umum lain. Supiana, Pebina Urusan Kesiswaan SMPN 2
Bandung, menolak sekolahnya diidentikan dengan geng. “Tidak ada fakta
bahwa GBR berdiri di SMPN 2,” ujarnya. Namun ia membenarkan halaman
sekolahnya dijadikan tempat bergerombol pada sekitar tahun 80-an. MASUK
ke dalam komunitas ini tidak cuma-cuma. Calon anggota Moonraker,
misalkan, tak jarang diwajibkan mengendarai motor tanpa rem dari Lembang
hingga Jalan Setibudhi Bandung. Jaraknya sekitar 15 kilometer. Kalau
tidak disuruh ngebut tanpa rem, anak baru dipaksa berkelahi dengan
seniornya. Pendeknya, mereka tampil pada panggung kehidupan sosial
dengan menawarkan model-model kekerasan. Diakui atau tidak, itulah pola
yang terbentuk melalui berbagai gerakan yang mereka tampilkan. Tindakan
kekerasan seperti kebutuhan spritual untuk membentuk identitas
kelompoknya. “Tindakan melanggar hukum memang ada, hanya agar orang
lain tahu bahwa kami ada,” kata Ilmanul, anggota Brigez itu. Ia kini
berusia 27 tahun dan kini berwiraswasta. “Kalau soal membuka jalan dan
memukul spion mobil orang, itu biasa dan sering dilakukan pada saat
konvoi. Ada juga yang mencuri, tapi uangnya digunakan rame-rame untuk
pergi keluar kota atau konvoi,” tambahnya. Setiap geng memang tidak
membenarkan tindakan itu, tapi ada tradisi yang tidak tertulis dan
dipahami secara kolektif bahwa tindakan itu adalah bagian dari kehidupan
jalanan. Apalagi jika yang melakukannya anggota baru yang masih berusia
belasan tahun. Mereka “mewajarkannya” sebagai salah satu upaya mencari
jati diri. Yopi, anggota GBR berusia 25 tahun, punya pengalaman yang
membuat jantungnya bertabuh. Pada suatu malam di Jalan Cihampelas, dia
bersama seorang temannya menghadang dan mengancam seorang pengendara
motor. Setelah berhasil mematahkan keberanian orang itu, ia dan temannya
justru bingung mau melakukan apa. Akhirnya keduanya sepakat untuk
mengambil uang secukupnya dari dompet korban, lalu kabur
sekencang-kencangnya. “Deg-degan, tapi puas karena gak tertangkap
polisi,” kenang Yopi seraya tersenyum lebar. Ada juga inisiasi yang
lain. Untuk menjadi anggota senior, misalkan. Ia tidak cukup dengan
berapa lama dia bergabung di geng itu, tapi butuh pembuktian bahwa orang
itu berani melakukan hal yang paling beresiko sekalipun. Semakin tinggi
resiko yang dia ambil, semakin tinggi pula penghormatan atas dirinya
Senior adalah kedudukan penting bagi geng. Seorang senior mempunyai
keleluasaan dalam hal apapun. Ia juga mempunyai hak menentukan keputusan
terhadap para junior. Kedudukan senior bahkan lebih tinggi di atas
ketua geng. Senior bisa memutuskan salah atau benar dan menghukum junior
dengan caranya sendiri. Wendy Pranandha, anggota GBR, mengatakan peran
senior amat menentukan. Sekali saja ada anggota yunior tidak kelihatan
kumpul wajib setiap malam minggu, si senior akan menghajar sesuka
hatinya, tak peduli alasan apapun. Kekerasan seolah mewakili spirit
mereka. Mungkin juga mereka menganggap itu pilihan gaya hidup. PERLU
dibedakan antara geng motor dengan Club Motor. Geng motor adalah
kumpulan orang-orang pecinta motor yang doyan kebut-kebutan, tanpa
membedakan jenis motor yang dikendarai. Sedangkan Club Motor biasanya
mengusung merek tertentu atau spesifikasi jenis motor tertentu dengan
perangkat organisasi formal, seperti HDC (Harley Davidson Club), Scooter
(kelompok pecinta Vesva), kelompok Honda, kelompok Suzuki, Tiger, Mio.
Ada juga Brotherhood kelompok pecinta motor besar tua. Tapi kalau soal
aksi jalanan, semuanya sama saja. Kebanyakan sama-sama merasa jadi raja
jalanan, tak mau didahului, apalagi disalip oleh pengendara lain.
2.Mulanya kumpul-kumpul sesama pecinta motor, kemudian berubah jadi geng
yang beranggotakan puluhan bahkan ratusan orang. Di jalanan, mereka
membentuk gaya hidup yang terkadang menyimpang dari kelaziman demi
menancapkan identitas kelompok. Ngetrack, kebut-kebutan, dan tawuran
adalah upaya dalam pencarian identitas itu. KAWASAN Cilaki, Bandung,
suatu sore. Matahari mulai menepi. Tak seluruh siluetnya jatuh ke
jalanan. Kerimbunan pepohonan menghalanginya. Dalam teduh, tiga remaja
terlihat sedang duduk-duduk. Mereka pelajar sekolah menengah atas yang
sedang membunuh waktu, menunggu tibanya jadwal bimbingan belajar. Dari
kejauhan, sepeda-sepeda motor menderu-deru. Jumlahnya belasan. Mereka
jalan beriringan. Pedalnya dibuat meraung-raung, walau kecepatannya tak
lebih kencang dari pembalap paling bego sekalipun. Mereka melintasi tiga
pelajar itu. Mereka, seperti tiga pelajar itu, semuanya berseragam
putih abu. Tapi kedua kelompok jelas dari sekolah yang berbeda, dan
mungkin tak saling kenal. Sebagian pengendara menyembunyikan seragam
putih-abu itu di dalam jaketnya. Tepat di depan ketiga pelajar, salah
satu pengendara motor terjatuh, seperti disengaja. Sontak saja
teman-temannya melimpahkan kesalahan kepada tiga pelajar itu. “Maneh
budak mana, tong macem-macem ka aing,” bentak salah satu pengendara
motor itu. (Kamu anak mana, jangan macam-macam.) Tiga pelajar tadi tak
merespon. Merasa di atas angin, para pengendara itu melampiaskan
kebinatangannya. Salah seorang mulai memukul. Dan ketika ketiga pelajar
itu tak menunjukkan perlawanan, yang lain makin berani dan mulai ikut
memukul. Adegan selanjutnya sudah bisa diduga, pengeroyokan tanpa alasan
berlangsung dalam waktu cepat. Dua di antara tiga pelajar itu babak
belur. Antoni Adi Krisna, salah satu pelajar dari SMUN 9 Bandung ,
dipukuli bertubi-tubi. Darah segar mengalir dari hidungnya. Pelajar
lainnya dari sekolah yang sama, Muri Nugraha, dipaksa untuk menyerahkan
barang berharga. Dompet pun melayang. Seorang lagi, Rizal Satria pelajar
SMUN 2 Bandung, selamat dari aniaya itu. Ia mengambil langkah seribu.
Usai beraksi, geng tadi berlalu. Seorang pengendara tak lupa berseru
dengan pongah “Aing raja jalanan tong macem-macem ka aing.” (Aku raja
jalanan, jangan macam-macam). Suara knalpot memecah telinga, kemudian
sunyi. “Saya dan pedagang lain melihat kejadian itu, tapi tidak satupun
di antara kami yang berani melawan mereka. Jumlahnya terlalu banyak,”
Maryati, pemilik kios itu mengatakan kepada sayaMenurut Rita pengelola
Daniel Bimbingan Belajar, Antoni Adi Krisna mengalami shock dan tidak
ingin ditemui oleh wartawan. Demikian juga dengan orang tuanya yang tak
ingin anak-anaknya terus terusan dijadikan bahan pemberitaan. “Ini
tempat bimbingan belajar, jadi kami sangat menghormati pripasi pengguna
jasa kami,” ujar Rita ketika saya meminta bertemu degan Antoni. ADA
masa-masa tak aman di jalanan Bandung. Geng motor, beranggotakan
beberapa orang atau puluhan hingga ratusan, tak jarang bikin cemas. Ajun
Komisaris Besar Polisi Masyudi, Kepala Polisi Resort Bandung Tengah,
termasuk yang jengkel atas perilaku mereka. Ia mengancam akan melarang
keberadaan geng motor. Bisa dipahami kalau Masyudi jengkel. Soalnya,
menurut Inspektur Polisi Wadi Sa’bani, Kepala Unit Reserse Kriminal
Polisi Sektor Bandung Tengah, kasus-kasus kriminal yang melibatkan geng
sepeda motor belakangan ini menunjukkan kecenderungan meningkat. Dalam
satu tahun terakhir saja, kata dia, terjadi dua kasus setiap minggunya.
Jumlah ini belum termasuk pengaduan dari masyarakat. Jenis kejahatannya
beragam, mulai pencurian, tawuran, perampokan dengan kekerasan dan
pengrusakan tempat umum. “Di kota lain, aksi brutal para gengster tidak
separah di Bandung, bahkan mungkin tidak ada,”ujarnya, menerka-nerka.
Sa’bani yang saya temui di kantornya mengungkapkan perilaku mereka
didasari motif yang tak jelas. Bahkan, bukan sekadar kebutuhan ekonomi.
Faktanya, banyak dari mereka berasal dari keluarga mampu. “Ada semacam
kepuasan jika melakukan aksi melanggar hukum.” “Kebanyakan dari mereka
yang tercatat di kepolisian adalah anggota kelompok XTC.” Menurut
Sa’bani, di antara mereka tak sedikit residivis dalam kasus pencurian
kendaraan bermotor. Ada catatan buat si residivis itu. Salah satunya
menimpa perempuan muda bernama Furwanti, 18 tahun. Tengah malam ia lewat
di Jalan Laswi. Tiga motor dengan enam orang pengendara, melaju pelan
di hadapan Furyanti. Plat nomor motor mereka ditutupi plastik. Satu dari
mereka memepet Furyani dan menempelkan sebilah golok di samping leher
Furwanti. Hanya perlu sedikit gerakan untuk menyobek leher itu. Furwanti
terkesima dan berhenti. Dengan sewenang-wenang mereka merampas helm dan
kunci kontak, lalu kabur dengan kecepatan tinggi. Belum habis teriakan
Furwanti, beberapa polisi mendekati Furwanti kemudian langsung mengejar
mereka. Nampaknya polisi telah mengintai mereka dari jauh. Polisi hanya
berhasil menangkap dua tersangka pelaku. Empat orang lainnya lolos. ***
KECENDERUNGAN perilaku mereka mengarah ke kriminal setidaknya telah
berlangsung sejak tahun 1990-an lalu, tak lama setelah arena balapan di
jalanan di Bandung dijaga ketat aparat kepolisian. Jalanan yang sering
digunakan untuk kebut-kebutan antara lain kawasan Gasibu di Jalan
Diponegoro, kawasan Dago dan Jalan Supratman. Arena kebut-kebutan tak
lagi terlokalisasi. Mereka menyebar secara sporadis ke jalanan lain yang
lolos dari pindaian polisi. Jalanan membawa hawa panas rupanya. Mereka
tak sekadar kebut-kebutan, tapi juga tawuran. Pada 1995, tiga pemuda
dikerangkeng di balik penjara, karena terbukti bersalah dalam kasus
tawuran antara geng Brigez dengan Binter Mercy. Satu orang anggota
Binter Mercy tewas. Saya berkunjung ke rumah Ilmanul salah satu anggota
Brigez yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Saya mendapat sambutan
hangat darinya. “Saat itu saya tidak tahu ada orang yang terbunuh, saya
baru tahu dari koran keesokan harinya,” ujar Ilmanul meceritakan kepada
saya. “Dalam tawuran, kita tidak peduli berapa korban yang terluka atau
yang terbunuh, yang penting saat itu bagaimana menyelamatkan diri dan
teman-teman,” tambahnya. Ilmanul dihukum dua tahun penjara, sedangkan
dua orang temannya masing-masing dihukum tiga tahun dan 2,5 tahun
penjara. “Waktu itu memang kami bersalah, menggesek-gesekan samurai di
depan mereka,” kata Ilmanul. Yopi, anggota GBR, mengisahkan tragedi
paling mengerikan dalam hidupnya pada tahun 1998, ketika terjadi perang
besar-besaran antara GBR dengan XTC yang melibatkan ratusan anggota geng
motor di kawasan Dago. Lima orang meninggal dalam tragedi itu. Mereka
mengenangnya dalam ungkapan “Dago Menangis.” Yopi lulusan Universitas
Pasundan Bandung tengah mendirikan lembaga konsultan dalam bidang
pangan. Ia memutuskan untuk tidak lagi ikut dalam kegiatan geng
motor.“Teman saya banyak yang meninggal, akibat tawuran dan OD (Over
Dosis-red),”ungkapnya. Wendy Prananda, juga anggota GBR, menyaksikan
temannya sendiri kehilangan salah satu telinganya akibat dipotong lawan
tawurannya. Tapi peristiwa-peristiwa itu tidak menjadi alasan untuk
jera. Wendy menyukai dunia broadcast. Ia menjadi juru kamera di salah
satu televisi lokal di Bandung. “Kami seperti keluarga, meski saya sudah
jarang gabung, tapi soal kesetiakawanan gak pernah luntur,” kata Wendy
ketika saya menemuinya di kantornya. Tahun itu seolah menjadi titik
klimaks aksi brutal mereka. Pertemuan antar geng sering jadi saat yang
paling rawan gesekan. Nyawa berguguran dan melahirkan dendam tak
berujung. Samurai, jenis golok berukuran panjang yang biasa digunakan
oleh kelompok Ninja di Jepang, menjadi senjata khas mereka. Tidak hanya
saat tawuran, senjata ini biasa dipamerkan pada saat konvoi. Samurai
dilepas dan ujung runcingnya digesekkan ke jalanan hingga memercikan
cahaya api. Senjata lainnya yang biasa digunakan yakni golok, stik soft
ball, bom molotof bahkan senjata api jenis pistol. Tidak tahu pasti
siapa yang menggunakan senjata api, namun dari penuturan sebagian
anggota geng yang saya temui, semuanya pernah melihat teman satu gengnya
menggenggam pistol atau malahan diancam dengan pistol. Tragedi demi
tragedi terus terjadi. Dendam terus berkecamuk, seperti snow ball.
“Tidak perlu ada masalah, pokoknya kalau ketemu, kami saling hajar,”
kata Devi Makmur alias Felix, salah satu pentolan XTC. Usianya masih
muda belum genap 30 tahun. Saya menemuinya di sebuah café tenda di Jalan
Dipatiukur. Kejadian paling hangat Agustus 2006 ketika Brigez sedang
konvoi ke daerah Garut. Tiba-tiba XTC melempari mereka dengan batu.
Terjadi kejar-kejaran, lalu tawuran. Satu unit rumah dan mobil milik
warga hancur. “Permasalahan dengan XTC tidak akan pernah berakhir sampai
kapan pun. Kami tidak pernah mewarisi dendam ini, tapi generasi
selanjutnya akan tahu dengan sendirinya,” ujar Ilmanul kepada saya. ***
PERLU dibedakan antara geng motor dengan Club Motor. Geng motor adalah
kumpulan orang-orang pecinta motor yang doyan kebut-kebutan, tanpa
membedakan jenis motor yang dikendarai. Sedangkan Club Motor biasanya
mengusung merek tertentu atau spesifikasi jenis motor tertentu dengan
perangkat organisasi formal, seperti HDC (Harley Davidson Club), Scooter
(kelompok pecinta Vesva), kelompok Honda, kelompok Suzuki, Tiger, Mio.
Ada juga Brotherhood kelompok pecinta motor besar tua. Tapi kalau soal
aksi jalanan, semuanya sama saja. Kebanyakan sama-sama merasa jadi raja
jalanan, tak mau didahului, apalagi disalip oleh pengendara lain. Ada
empat geng motor yang pali 3.BANDUNG (Pos Kota) - Awalnya geng motor
hanya kumpulan anak-anak remaja yang hobi ngebut dengan motor, baik
siang maupun malam hari di Kota Bandung . Mereka melakukan balapan motor
alias trek-trekan di jalanan umum. Tapi kini, geng motor kini sudah
meresahkan masyarakat, karena sepak terjangnya makin beringas. Kelompok
ini sekarang sudah menyebar ke berbagai wilayah, meski organisasi
induknya tetap berada di Kota Bandung , Jawa Barat. Untuk mengetahui,
kenapa mereka berubah brutal dan jahat, kita mesti lebih dulu mengetahui
latarbelakang organisasinya dan doktrin yang diterapkan saat mereka
direkrut yang disebut sumpah. Setiap anggota geng motor dalam
sumpahnya, harus berani melawan polisi berpangkat komisaris ke bawah.
Anggota harus berani melawan orangtuanya sendiri. Sumpah terakhir,
anggota harus bernyali baja dalam melakukan kejahatan. Demikian tiga
sumpah anggota geng motor di Bandung dalam buku putihnya yang ditemukan
polisi pada tahun 1999. Dokumen setebal 20 halaman yang diamankan
Kapolwiltabes Bandung saat itu, Kolonel (Kombes-Red) Yusuf Mangga
Barani, nampaknya menjadi sumpah atau patokan geng motor selama ini. 4
GENG TERKENAL Berdasarkan penyelidikan, ada empat geng terkenal di Kota
Bandung , yakni Exalt To Coitus (XTC), Grab On Road (GRB), Berigadir
Seven (Briges) dan Mounraker yang pada hakikatnya memiliki ideologi
sama, mencetak anggota dari kalangan siswa SMP dan SMA menjadi remaja
yang berperilaku jahat dan tak lepas dari tiga sumpah di atas. Anggota
bukan saja laki-laki, tetapi banyak juga remaja putri yang senang
ngumpul-ngumpul, berbaur dengan putra. Merujuk dari tiga poin doktrin
geng motor tersebut, dapat dimaklumi kalau mereka selalu berbuat jahat
karena termotivasi doktrin yang ada di kumpulanya itu. Hanya saja, aksi
kejahatan mereka kini semakin membabi buta. Bukan saja sebatas tawuran
atau merampas sepeda motor, tapi mereka sudah berani merampok dan
membunuh. Masalah kejahatan inilah yang kini jadi momok warga Bandung
untuk keluar pada malam hari. Dan sering membuat kewalahan polisi untuk
memberantasnya. POTONG JARI Geng XTC berdiri pada tahun 1982 di Kota
Bandung . Dengan menancapka bendera putih biru muda bergambarkan lebah
itu awalnya didirikan sekelompok anak SMA swasta elite di kota ini.
Rekruitmen anggota terus digenjot kelompok ini. Sehingga pada usia
belasan tahun geng ini mampu menarik anak sekolah dan dengan cepat
berkembang di daerah-daerah di Jawa Barat. Exalt To Coitas tercatat
beranggotakan di atas 5.000 orang. Anggota ini tersebar mulai Kota
Bandung, Kabupaten Bandung, Ciamis, Garut, Tasikmlaya, Sumedang,
Cianjur, Subang, hingga Cirebon dan Kuningan. Sejalan dengan tipe lebah,
anggota geng tersebut selalu kompak bila ada anggotanya yang disakiti
anggota geng lain. Bagaikan lebah, ketika disakiti, mereka terus memburu
musuh-musuhnya yang menggangu kenyaman hidup mereka. Kami mengakui
kalau XTC merupakan geng terbesar di Bandung dibanding tiga geng
lainnya. Kekuatan semakin besar egonya pun tak ketulungan. Walau geng
lain tak menggangu, XTC selalu membuat masalah, kata sejumlah pentolan
geng motor yang menolak ditulis namanya. XTC geng motor yang terkuat
saat ini. Jumlah anggota semakin bertambah, sehingga daerah jajahan nya
pun semakin luas. Semula XTC hanya menguasai sejumlah ruas jalan di Kota
Bandung mulai Jalan Peta, Buahbatu, Gatot Subroto dan Jalan Diponogoro.
Namun, belakangan, daerah kekuasaan geng ini semakin bertambah dan
mampu mencaplok daerah Jalan Dago, Pasteur hingga Kiaracondong. Dengan
adanya eksvansi daerah kekuasaan ternyata banyak menyinggung kewibawaan
geng motor lainnya di Kota Bandung . Buntunya, percikan pertengkaran dan
saling serang menyerang terus terjadi meski harus menumbalkan nyawa
anggotanya. Diakui atau tidak, geng XTC dimusuhi tiga geng lainnya. Ini
bukan impian tapi kenyataan, kata para remaja di Bandung . Dalam
membuat anggota baru, XTC memiliki cara tersendiri. Para anggota yang
datang dari lingkungan sekolah SMP dan SMA selalu digodok di daerah
Lembang selama empat hari untuk mengikuti training loyalitas. Polisi
jajaran Polwiltabes Bandung mencatat, training loyalitas yang diterapkan
bukan berupa pelajaran sekolah, melainkan berupa penggojlokan fisik
mulai ditendang diinjak dan dipukul. Penyiksaan ala IPDN terhadap praja
lebih ringan dibanding penyiksdaan di XTC. Dan cuplikan gambar tersebut
ada di CD yang berhasil diamankan Polwiltabes, kata sejumlah anggota
polisi. Yang lebih parah lagi, semua anggota baru yang lulus dalam uji
loyalitas, harus mengikuti tes terakhir ketika mereka pulang ke rumah.
Tes itu berupa mengendarai sepeda motor Lembang-Bandung tanpa harus
menggunakan rem. Latihan ini yang kini terus dikembang dalam aksi
kejahatan perampasan perampokan dan penyerangan di tengah jalan, kata
dia. Anggota XTC memiliki keunikan tersendiri dalam organisasinya.
Setiap orang mengundurkan diri dari keanggotaanya yang bersangkutan
diharuskan potong jari kelingking. Upacara ini menandakan kesetiaan
seseorang terhadap geng. Luar biasa ! MINUM DARAH ANJING Berbeda dengan
geng motor Brigadir Seven (Briges) dalam merekrut anggota barunya. Tiga
doktrin utama seperti musuhi polisi, lawan orang tua, dan berlaku jahat
di tengah malam terus dikembangkan pada tubuh geng yang semula
beranggotakan siswa SMA 7 Bandung. Terhadap anggota baru, Komandan
Briges terus melakukan uji nyali mulai keterampilan dalam beraksi hingga
mereka diharuskan minum darah anjing dan ayam. Konon, dua darah ini
bisa menubuhhkan rasa berani pada diri seseorang. Dengan keberaniannya
dalam beraksi, Briges mengalami perkembangan cukup lumayan. Di bawah
bendera negera Jerman bergambarkan kelelawar hitam, Briges terus
mengembangkan sayap dalam dunia geng hingga mengalami kekuatan kedua
setelah XTC. Dalam dunia pergengan di Bandung , Briges yang berdiri
pada tahun 1980-an menempati posisi kedua dan sekaligus musuh bubuyutan
XTC. Beberapa tahun belakangan, Briges berubah arti. Semula Brigadir
Seven, tiba-tiba pada tahun 1999 berubah menjadi Brigadir Gestapu.
Ketika nama Gestapu melekat pada kelompok mereka aksi brutalnya pun
semakin menjadi-jadi. Setiap hari terus tawuran dan menyerang
sekolah-kolah di Bandung . Tak kurang dari seminggu tiga kali, Beriges
selalu bentrok dengan XTC. Dalam pencaturan wilayah kekuasaan, Briges
hanya mengendalikan beberapa jumlah ruas jalan yang ada di Bandung .
Jalan Lengkong Kecil dan Besar, tempat sekolah mereka berdiri, merupakan
daerah kekuasaan utamanya yang tak bisa diganggu siapapun. Ketika
nyalinya semakin tinggi, Jalan Asia Afrika berhasil diambilalih termasuk
Jalan Sudirman kota Bandung . Moonraker, geng motor yang beridiri pada
tahun 1978. Para pendiri geng ini merupakan siswa SMA yang ada di Jalan
Dago yang mencintai dunia balapan motor pada waktu itu. Nama geng itu
sendiri diambil dari judul film James Bond yang sedang naik daun pada
waktu itu. Dalam pencaturan jumlah anggota geng ini di bawah Briges.
Kecilnya anggota bukan jadi ukuran dalam dunia kejahatan. Anggota
Moonraker sama saja dengan yang lain, beringas, ganas dan selalu siap
perang pada malam hari. Di bawah naungan bendera merah putih biru
bergambarkan kelelawar, Mounraker mampu berkuasa di kota ini. Sepanjang
Jalan Dago, Dipati Ukur dan Dago pojok merupakan wilayah kekuasaanya.
Belakangan geng ini sering bentrok dengan XTC menyusul sebagian
wilayahnya telah dieksvansi geng itu. Grab On Road (GRB) merupakan geng
motor paling bontot di Kota Kembang. Anggota mayopritas anak SMP 2 yang
memiliki hobi balapan setiap malam. Di bawah bendera merah kining
hitam, geng tetap berjalan meski anggotanya hanya sedikit dibanding tiga
geng lainnya. Daerah kekuasaan mereka sepanjang Jalan Sunda, Sumatera
dan sekitarnya. Geng ini lamban dalam melakukan perkerutan anggota. Hal
itu tertjadi karena pentolan pengurus masih anak SMP sehingga pola
pegembangan organisasdinya cukup lamban. Kejahatan, jangan ditanya.
Beringasnya sama saja, kata polisi. INCAR EMPAT GENG Empat geng motor
yang terus membuat kisruh di Bandung nyatanya turut mengundang amarah
polisi. Tak tanggung-tanggung, Kapolrtesta Bandung Tengah AKBP Mashudi
menegaskan empat geng motor itu yang menjadi inacaran kepolisian.
Keempat geng ini incaran kami karena selalu bikin ulah, tandasnya.
Polisi mengincar geng motor sangat dimalumi. Pasalnya, dalam dua bulan
terakhir tercatat tiga warga tewas sia-sia akibat dibantai anggota geng
motor. Sebut saja Asep siswa SMA tewas dibantai kemudian mayatnya
dibuang ke sungai di Celenyi Kabupaten Bandung . Kemudian sensi anak SMA
tewas dibantai geng motor dan mayatnya dibuang diselokan daerah
margahayu raya. Korban ketiga PNS Kanwil Bea Cukai Merak Banten Putu.
Korban ini dibantai ketika sedang silaturahmi ke teannya di Bandung .
Aksi kejahatan yang dilakukan geng motor, lanjut Mashudi, sangat
monoton. Mereka berkelompok menyergap merampas dan menguras hartanya.
Bila melawan korban dihabisi. Geng ini tak mau bergerak sendirian,
tegasnya. Dari fakta yang ada, lanjut dia, korban warga biasa (diluar
anak sekolah) dibunuh ketiuka mereka melawan. Alasan melakukan
pembunuhan sangat enteng yaitu salah sasaran. Jika korban menimpa anak
SMA itu murni dibantai karena adanya permusuhan antara geng. Korban
terpaksa dibantai karena diduga menyakiti anggota geng lain, atau
mengkhianati geng yang korban masuki. Pengunglapan sangat a lot karena
pelajar yang berhasil ditangkap selalu tutup mulut untuk ketika ditanya
masalah gengnya itu,. Berdasar bukti yang ada, anggota geng motor
merupakan anak dari para pejabat yang ada di kota bandung . Melihat
status sosial orang tuanya, ada kesan polisi nampak menutup sebelah mata
terhadap aksi kejahatan geng motor tadi. Namun, Kapolda Jabar Irjen Pol
Sunarko, memberikan sinyal, supaya geng motor yang berulah diproses
secara hukum. Tak peduli anak siapa dan darimana, kalau bersalah proises
sesuai hokum, tegas kapolda kemarin. BISA MEMBAHAYAKAN KRIMINOLOG
Soedjono, berkomentar blak-blakan masalah geng motor ini. Dia mengaku
blak-blakan atas keburutalan mereka. Jangan dibiarkan, bisa-bisa
nantinya membahayakan! Geng motor kata dia, merupakan wadah yang mampu
memberikan gejala watak keberingasan anak muda. Perkembangannya, tak
lepas dari trend an mode yang sedang berlangsung saat itu. Aksi brutal
itu perlu diredam. Mulanya berbuat jahat dari yang ringan seperti bolos
sekolah, lama-lama mencuri, merampok dan membunuh. Lumrahnya jika sudah
berani jahat ada indikasi mereka mengkonsumsi narkoba, kata dia.
Menyikapi masalah ancaman terhadap polisi, demikian Soedjono, perlu
dijadikan alat kaji diri untuk kepolsian. Ancaman mereka nampaknya
serius karena anggota geng mengakui polisi merupakan penghalang utama
dalam melakukan kejahatan. Mereka berlaku jahat ujung-ujungnya
berusurasan dengan polisi. Makanya mereka benci polisi, tuturnya.
Begitu pun membenci melawan orang tua. Mereka sadar karena masih sekolah
sumber keuangan ada di orang tua. Olehgkarenanya, jika orang tua tak
memberi uang cukup, mereka terpoaksa membenci dan mengancam orangtuanya
tadi. Sedang aksi kejahatan berupa perampasan dan perampokan, merupakan
jalan lain untuk m,endapatkan penghasilan. Pola piker seperti harus
segera dihentikan,. Solusi konkret yang perlu ditempuh adalah,
kepolisian haruis konsisten memberantas mereka. Kemudian DInas
pendidikan dan sekolah harus turut bergandeng tangan dengan polri dalam
meminimalisir aksi kejahatan itu. Jangan ada kesan Diknas cuci tangan
Karen ada polisi. Cuci tangan ini yang membahayakan, katanya. TEMBAK
DITEMPAT Kebrutalan geng motor bukan saja dirasakan pihak kepolisian.
Warga pun kini mulai merasa gerah akan ulah mereka. Aksi mereka yang
dilakukan tengah malam, membuat rasa takut warga Bandung untuk
jalan-jalan di malam hari. kami merasa tak nyaman malam hari di bandung .
Khawatir geng motor nyerang dan merampas motor. Olehkarenya kami setuju
kalau mereka yang berbuat jahat tembak ditempat saja, kata warga,
Yunus,45,. Hal sama diungkapkan tokoh masyarakat wilayah Bandung Timur.
H. Muhamad Husein dengan tegas meminta supaya polisi bertyindak tegas
kepada geng motor ketika melakukan aksi kejahatan. kami piker tak perlku
pusing kalau sudah cukup bukti dan tertanghkap basah berlaku jahat
tembak mati saja, katanya. Tembak mati atau tembak melumpuhkan,
merupakan stimulus jitu untuk memberikan efek jera pada meraka. Namun,
action polisi mengarah ke penembakan itu belum, ada, sehingga ada kesan
polri sangat menutup mata akan kejahatan geng motor tadi. Geng motor
yang diproses di perngadilan tak akan memberikan efek jera. Ketika
pelaku divonis bebas, rekan-rekannya menyambut dan mengelu-eluka. Jika
anggota geng motor ditangjap dan diadili maka anggota itu menjadi
pahlawan, tegasnya. Olehkarenya, untuk memberikan rasa aman pada warga
dan tamu luar kota yang dating ke bandung , tiondakan tegas kepada
anggota geng motor harus segera dilakukan. Kami sangat prihatin bila ada
tamu ke Bandung kemudian tewas dibantai geng motor. Mereak telah
merusak citra kota Bandung , katanya, seraya menambahkan, warga luar
kotra yang ada di bandung waspadalah bila jalan-jalan pada tengah malam.
Langganan:
Postingan (Atom)